Di era milenial ini, UPH menyadari fenomena cyberbullying rentan terjadi di kalangan remaja. Bahkan dengan kemajuan pesat teknologi, remaja tidak lepas dari ponsel pintar mereka; yang menjadikan bullying tidak lagi hanya terjadi secara langsung melalui verbal atau fisik, namun melalui media digital seperti media sosial. Melihat fenomena ini, UPH merasa perlu mengajak para guru untuk memahami fenomena Cyberbullying melalui Teacher Seminar bertemakan “Bagaimana Mengenal Cyberbullying?” yang berlangsung pada 14 Agustus 2019 di B326 UPH kampus Lippo Village.

Sebanyak 71 guru dari beragam sekolah mendapat paparan yang dibawakan oleh Irmawan Hadiraharja, Direktur Eksekutif di Family First Indonesia.

“Sebuah penelitian di Indonesia menyatakan bahwa 58% responden tidak paham akan masalah cyberbullying dan 39% tidak memahami kemanan berinternet. Berbeda dengan jaman kita yang mendapat teman dari lingkungan sekitar, remaja saat ini lebih mudah menjalin pertemanan lewat dunia maya. Ini mengakibatkan remaja rentan menjadi korban dan atau pelaku cyberbullying,” ungkap Irmawan.

Selain itu, Irmawan juga menambahkan bahwa usia remaja merupakan usia yang berada pada tahap pencarian jati diri yang sering didasarkan pada pengakuan layak dari orang lain terhadap dirinya. Mereka mendefinisikan diri mereka berdasarkan lingkungan pergaulannya dan bahkan menjadikannya sebagai standar hidup mereka. Akibatnya, saat mendapat komentar buruk, mereka terintimidasi dan terpuruk. Dan banyak korban bullying hanya diam dan takut melaporkan apa yang terjadi.

“Cyberbullying sendiri terdiri dari berbagai macam, yang biasanya kurang dipahami orang awam. Antara lain frapping, outing, dan trolling. Frapping yaitu ketika seseorang menggunakan nama orang lain untuk akun media sosialnya dan memposting hal tidak senonoh atas nama orang tersebut. Outing – tindakan menyebar data orang lain yang bersifat personal. Sedangkan trolling adalah memposting komentar negatife di forum public,” tambah Irmawan.

Melalui paparannya, tentu Irmawan berharap para guru yang hadir semakin aware dengan keadaan siswa mereka. Sangat penting untuk menanamkan pemahaman kepada para siswa, bahwa harga diri mereka tidak dibangun apa kata orang namun bagaimana mereka mampu mengenal pribadi mereka masing-masing.

Tidak hanya itu, Irmawan juga mengingatkan ada banyak tindakan yang dapat dilakukan setiap individu untuk mencegah cyberbullying diantaranya perlindungan data pribadi, lebih menghargai pertemanan di dunia nyata dibanding dunia maya, dan selektif dalam memilih teman dekat. Sedangkan bagi para guru, Irmawan berpesan agar sebagai pendamping di sekolah, guru harus mendorong remaja dalam mengembangkan bakat dan potensi mereka, mengajarkan mereka untuk update postingan yang sehat dan bertanggung jawab, dan selalu mebuka jalur komunikasi yang hangat dan responsive atas segala bentuk perilaku remaja.

Teacher Seminar yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan UPH Festival 2019 ‘Grace Upon Grace’ dirasakan manfaatnya oleh para guru yang hadir. Seperti yang diungkapakan Ambros guru dari SMA Marsudirini Bekasi.

“Seminar ini membuka hal-hal baru untuk guru mengenai cara mengenal dan mengatasi cyberbullying. Banyak anak yang pindah ke sekolah kami dengan keluhan menjadi korban cyberbullying di sekolah lama mereka. Maka, kami juga harus tahu cara mencegahnya tidak terulang di sekolah kami.” Ujar Ambros.

Usai seminar, para guru juga diajak untuk mengikuti workshop  pembuatan dompet berbahan dasar kulit yang difasilitasi oleh Richwan Hartono – Alumni Desain Produk, School of Design UPH 2009, di gedung B314. Dengan kegiatan ini, selain diperlengkapi wawasan seputar Cyberbullying harapannya para guru juga dapat merasakan kegiatan seru dan kreatif bersama UPH. (nt)